5.2.11

Bencana yang tak bernama..

Rasanya miris, sedih, esmosi, ketika beberapa hari lalu membaca sebuah berita di surat kabar harian. Di kota Purbalingga, ada 5 orang anak yang berusia 8, 9 dan 11 tahun, memperkosa temannya yang berusia 5 tahun dan 7 tahun. Kejadian itu berulang kali dilakukan baik di rumah maupun di kamar mandi umum, secara bergantian pula. Kejadian itu terungkap karena korban yang berusia 5 tahun bercerita ke ibunya ketika melihat tayangan ciuman di televisi bahwa dia pernah dicium seperti itu.


Apa yang terjadi ya, kok bisa anak yang masih di bawah umur melakukan hal yang seharusnya untuk mereka ketahui aja nggak boleh. Usia 5 dan 7 tahun sudah harus mengalami hal yang bahkan orang dewasa pun nggak akan kuat menghadapinya. Begitupun pelaku. Sebenarnya kata pelaku juga nggak tepat, karena mereka juga korban. Mereka nggak ngerti dampak yang mereka lakukan, kesalahan yang mereka lakukan. Lalu, peristiwa tragis ini menjadi kesalahan siapa. Orang tua dan lingkungan jelas mengambil porsi paling besar ketika anak seusia mereka sudah mampu berbuat seperti itu.
Belum habis rasa shock membaca berita ini, kemarin ketika melihat tayangan Kick Andy, di situ membahas tentang perilaku seks di kalangan remaja. Narasumbernya adalah PSK usia 16 tahun (perempuan) dan 19 tahun (laki-laki). Yang lelaki bercerita bahwa dia sudah melakukan hubungan sex sejak kelas 6 SD. Dan psikolog Ibu Elly Risman pun mengatakan bahwa sekarang, kebanyakan sejak kelas 1 SD anak sudah mengenal sex baik melalui internet, tv, hp, komik, orang dewasa di sekitarnya dll. Bayangkan, di usia seperti itu bukannya mereka seharusnya sedang hobi bermain, mengoleksi tokoh film kartun, heboh membeli mainan tapi mereka malah sudah mengenal sex, dan mungkin terobsesi dengan itu.
Kalau sudah seperti ini, apa mereka yang harus disalahkan? Bukannya usia segitu orang tualah yang bertanggung jawab? Tapi, jaman sekarang di antara serbuan gadget, mudahnya akses internet, pronoaksi terselubung dimana-mana bisakah mengawasi mereka 24 jam, melarang dan memprotect mereka dari pornografi ? Jadi teringat kasus beberapa waktu yang lalu ketika marak-maraknya VCD kartun malah berisikan video porno. Ya, menjadi orang tua di jaman serba digital memang nggak mudah, tapi menjadi anak kecil dan remaja di jaman ini bukannya juga nggak mudah? Yang mereka hadapi bukan hanya sekedar pemalakan, bullying, pilihan menonton kartun atau belajar, memilih membolos atau ikut les, PR dan musuhan antar teman, tapi mereka harus berjuang melawan serbuan pornografi yang tanpa mereka sadari dengan mudahnya mereka dapatkan.
Kalau sudah banyak tragedi seperti ini, sekarang pertanyaannya adalah…
Masih bisakah menganggap enteng masalah pronografi?
Masih bisakah menutup mata terhadap mudahnya akses pornografi di sini?
Masih bisakah tertawa melihat judul dan gambar film-film Indonesia yang nggak jelas itu yang dengan “indahnya” terpampang di mall-mall?
Masih bisakah menganggap pelaku penyebaran video itu hukumannya terlalu ringan?
Masih bisakah hukum di Negara ini mengangap pelaku pemerkosaan, pencabulan dan pelecehan tak lebih dari sekedar maling ayam yang hanya dihukum beberapa tahun bahkan beberapa bulan?
Masih bisakah tenang menonton televisi, browsing internet yang dengan mudahnya menampilkan pantat dan adegan ciuman sedangkan kita tau di saat yang sama anak-anak kecil juga bisa melihatnya?
Masihkah menganggap persoalan pornografi ini lebih enteng daripada politik dan korupsi?
Masih bisakah santai melihat video porno pribadi yang makin marak entah artis pelajar atau pejabat, sedangkan kita nggak tau beberapa tahun ke depan akankah anak kita juga melihat video seperti itu dengan usia yang masih balita?

Dan…
Cukupkah dengan modal pendidikan yang bagus, fondasi agama yang kuat untuk membentengi mereka?
Cukupkah dengan memblokir situs porno di internet rumah, atau hanya membekali anak dengan gadget yang cuma bisa telpon dan sms?
Cukupkah dengan melarang anak-anak pergi ke warnet, selalu menemani ketika mereka menonton tv, dan “memilih” teman yang baik bagi mereka?
Cukupkah??

Seperti yang psikolog Ibu Elly risman bilang: “kita sudah seharusnya melihat ini bukan sebagai berita, tapi mendengarkan dengan hati. Karena ini bencana nasional”

Ya, ini bencana. Bencana yang nggak bernama, tapi semakin lama semakin mengahancurkan…


Tidak ada komentar:

Posting Komentar