17.2.11

“Err.. kamu siapa ya?”

Ketika hamil besar gini salah satu hal yang nggak mengenakkan adalah ketika berinteraksi dengan orang yang udah lama nggak berjumpa. Yah, setidaknya beberapa bulan nggak bertemu. Contohnya hari Selasa kemarin ketika ada acara pertemuan ibu-ibu RT. Ada seorang ibu yang terakhir bertemu pas waktu gerak jalan bulan Agustus lalu. Begitu dia datang, salaman, tapi nggak ngomong apa-apa. Eh, di tengah pembicaraan tiba-tiba si Ibu menoleh ke arahku sambil nyeletuk: “ya ampun, ini istrinya dhio? ta' kira siapa, kok kayak pernah tau. Dulu kan terakhir ketemu acara Agustusan ya. Dulu nggak kayak gini, makanya nggak saya sapa” *sambil ngeliat dengan takjub dari atas ke bawah*. Aku sih cuma cengar-cengir sambil berharap wajah ini kempes seketika :).




Nggak lama ada seorang ibu datang. Ibu ini aku kenal lumayan baik dan termasuk tipe ibu-ibu heboh. Tapi tumben pas aku salaman dia nggak ngomong apa-apa cuma melirik sekilas. Eh, tiba-tiba si Ibu balik ngeliat lagi sambil berkerut keningnya dan berkata dengan lantang: “lho, iki istrinya dhio toh? ya ampun..kok dadi ngene saiki?” aku: berusaha tersenyum dan menahan diri untuk nggak mempertegas “dadi ngene”  itu maksudnya apa. hmph...
Begitupun ketemu temen lama. Pernah di mall, pas jalan dengan temen sekantor, ada temen SMU yang lama nggak ketemu. Pas aku nyapa, dia cuma bengong. Akhirnya dengan malu hati aku bilang: “mosok lali, iki aku bebek”. Seketika matanya langsung terbelalak, sambil ngakak dan bilang "huaha...iki kamu Bek? Kok uaboh kabeh ngene?” Reaksiku? tentu ikutan ngakak (sambil nyekik lehernya). Bahkan ada sodara yang bilang untung ketemu aku pas pertemuan keluarga gini, kalau ketemu di jalan paling juga nggak ngenalin. Hah? Segitu mempesonanyakah aku? *mekarin hidung*
Yah, semakin besar kehamilan memang harus diiringi dengan semakin lapang dada ini untuk menerima berbagai perubahan misal beberapa bagian tubuh yang menghitam, membesar dan semakin tak berbentuk. Harus menerima ketika suami dengan entengnya menjawab “oh item-item itu aku udah liat pas kamu tidur, kupikir DAKI”, ketika kutanya kok tengkukku jadi hitam ya? *masukin obat pencahar ke kopi suami*. Harus menerima ketika ponakanku Naira pas ngeliat perutku dengan polos (dan bersahajanya) teriak: “ya Allah ya Robbi, kok ada item-itemnya gitu perutnya tante? Nggilani”. Harus menerima ketika orang tidak mengenaliku lagi, menerima berbagai macam reaksi orang entah itu menahan ketawa, terheran-heran atau dengan gamblang bilang “Masya Allah, kok dadi ajur ngene wajahmu?”. Pun harus menerima ketika ada teman main ke rumah dan ketika kubukain pintu reaksi mereka adalah: “maaf, ini rumahnya Fanie ya? Fanienya ada Buk? *jedoton kepala temen ke pintu*.
Bukan cuma aku saja sih, suami pun harus dengan ikhlas menerima perubahan istrinya dari istri yang sabar, lemah lembut, pendiam menjadi istri yang nggak jelas moodnya. Pernah, pas mau berangkat ke kantor, habis ganti baju keluar kamar sambil cemberut. Suami tanya: “kok tiba-tiba mbetutut? Kenapa? Aku jawab: “aku sebel liat cermin, aku gilo ngeliat tengkuk, leher, dan ketiakku yang tiba-tiba item. Digosok model apa, dibedakin model apa juga nggak ada bagus-bagusnya. Ini sudah kayak iklan rexona yang bagian before-nya. Dulu nggak kayak gini meski jarang mandi. Ini kayak orang setaun nggak kena sabun”. Bla..bla..ngomel-ngomel nggak jelas sambil nendang timbangan. Suami terbengong sambil (mungkin) mikir: tiba-tiba ngomel nggak jelas itu pertanda hormon kehamilan atau emang susuk istriku sudah mulai luntur?
Intinya, kami berdua harus ikhlas menerima setiap perubahan yang ada, yang penting lancar dan sehat sempurna bayinya. Eniwei, jadi mulai berharap semoga anakku beneran cowok seperti prediksi orang-orang ketika melihat tubuh (baca: hidung) bengkakku. Bukan apa-apa si, cuma kalau yang lahir cewek terus pembenaran atas “mbambes-bengkak-elek-gak mbois-kucel” nya aku ini apa???

Tidak ada komentar:

Posting Komentar