Kalo
dipikir-pikir ketika saya bilang nggak sempat kebanyakan bukan karena beneran
nggak sempat. Tapi karena malas. Atau karena emang nggak niat-niat banget. Atau
karena nggak mau nyempetin. Contohnya ketika saya udah jaraaang ngaji setelah punya
anak. Alasannya karena “mana sempat, kan ada bayi yang masih nenen terus. Ntar
aja lah kalo udah punya ART nginep, pasti ngaji tiap hari”. Ketika punya ART
nginep, alasannya beda lagi “ya nggak bisa, kan kanzie nyariin saya, blabla..”.
Ketika sudah nggak ada ART nginep “ya waktunya kan untuk beresin rumah, main
sama kanzie”. Padahal ya, rumah juga tetep kotor dan kanzie juga sering liat
Barney sendirian. Ternyata juga bisa liat acara TV atau baca buku lebih dari ½
jam pas kanzie tidur. Tapi “nggak sempet” untuk ngaji. Lihat? Banyak alasan
untuk bilang nggak sempat padahal sebenernya bisa. Padahal ketika keadaan
memaksa misal ketika ada masalah atau lagi ada yang sakit bisa lho tiba-tiba
doa lama dan ngaji (nggilaninya saya, baru doa lama kalau ada masalah atau
keinginan). Jadi sebenernya sempet cuma sayanya aja yang males.
1.2.13
30.1.13
Yang mana dulu?
Kalo diliat dari analogi petunjuk emergensi di pesawat, orang tua disuruh memakai masker
oksigen dulu sebelum anaknya. Maksudnya orang tua harus memastikan dirinya
selamat dulu, baru bisa menyelamatkan anaknya.
Nah, analogi itu yang saya jadikan pembenaran acuan ketika menyuapi
kanzie. Sebelum menyuapi kanzie saya harus memastikan perut saya kenyang dulu. Nggak
ada ceritanya saya nggak tega, mosok ibuknya makan duluan anaknya belum makan. Atau
yang penting anak kenyang, ibuknya belakangan. Nggak ada itu. Saya harus
kenyang dulu, karena kalo dalam keadaan lapar, saya mudah sekali cranky yang
menyebabkan acara ndulang kanzie jadi ajang unjuk ketidaksabaran (karena
keburu-buru pengen makan). Jadi, perut kenyang, ndulang kanzie bisa lebih tenang.
Sekian pembenaran ibu nggragas dan doyan makan ini.
Selamat makan siang ^^
22.1.13
Suaranya gimana?
Jadi
ya, kemarin malam saya dan suami ngantuk berat. Mau ngajak Kanzie maen
bola/mobil-mobilan males. Bacain buku juga malah tambah ngantuk. Tapi juga nggak
mau ngijinin dia nonton Barney karena udah 2 kali nonton. Akhirnya nanggap si
bocah aja. Nanya suaranya ini gimana? Pertama normal-normal aja nanyain suara
binatang kayak kuda, kambing, gajah,harimau, babi, bebek, sapi, anjing, kucing.
Yang paling dia suka entah kenapa suara bebek (lirik diri sendiri) dan suara babi
(lirik suami pas ngorok). Trus iseng ibuknya nanya:
Ibuk:
“kalo suara kanzie gimana”
Kanzie:
“nen!” (teriakannya kalo minta nenen)
I: Suaranya
Ibuk?
K: Zie!!
(suara kenceng kayak suaraku kalo lagi negur kanzie)
I: Suara Bapak?
K: Zie
(nadanya lebih sabar *_*)
I: Suaranya Mbah?
K: Deekk..
I: Suaranya kung?
K: Zie…..
I: Suaranya Otet?
K: Alooo..(meragain
kalo ngomong ditelpon sama Otet)
I: Suara
kak Naira?
K: aa..aa…!!! (teriak, karena kapan itu diajarin
kak Naira teriak2)
I: adik Raynar?
K: Huuhuu..(nangis)
I: Suaranya
Bu X (tetangga) kalo beli tempe?
K: Uwiikk..(duit).
*Emang kalo belanja ke pak sayur suaranya lumayan kenceng*
I: Suaranya
mobil?
K:Nggenngg
I: Suaranya
kereta?
K: Tuit..tiiit.
(kayaknya ini akibat naik kereta2an di pasar, suaranya mirip sirine)
I: Orang
jual tape?
K: Pe…!!
I: Orang
jual bakso?
K: Soooo…!
I: Orang jual sayur?
K: Yuuuurr…
I: Orang jual kue?
K: Jajaaaaannn…
Hiaha…dasar bocah konyol. Makasih ya udah menghibur Ibuk Bapak. Kecuuuppp :*
21.1.13
Mendongeng
Kemarin malam, baru sadar ternyata si bocah ini udah gede. Jadi, sebelum tidur biasanya kanzie minta dibacain buku cerita. Kemarin, karena Ibuknya lagi mau ke kamar mandi tugas itu dengan suka hati diberikan ke Bapaknya. Dan ternyata malah kanzie yang ngedongengin bapaknya.
dst...sampe bapaknya bingung tebak kata, sedangkan sang Ibuk ngikik di belakang si bocah. ah, kamu udah gede ya Nak. udah bisa dongengin Bapakmu, sudah bisa pijitin Ibukmu, sudah bisa nolak kalau dimintain tolong ngambil barang nggak kayak dulu yang selalu suka dimintain tolong. dan, sudah bisa milih baju sendiri. besok-besok bantuin serika ya sayaaang :*
Kanzie pas 18m, gayanya kayak bisa baca :D
versi kanzie: "Mbel.. buk asak, atuh. apur, tor..emuaaa.."
versi Ibuknya : " Bramble bantuin Ibuknya masak di dapur. tepungnya jatuh, jadinya kotor semua"
versi kanzie: Bapak..mput, nga..arah..angis..huhu...
versi Ibuknya : Brambel bantuin Bapak nyabutin rumput, tapi malah bunga yang dipetik. Bapaknya marah, Bramble nangis. huhu..
versi kanzie: Mbel, mar..tor..atuh dur..
versi Ibuknya : Brambel mask kamar, kamarnya kotor, Bramble jatuh dari tempat tidur
dst...sampe bapaknya bingung tebak kata, sedangkan sang Ibuk ngikik di belakang si bocah. ah, kamu udah gede ya Nak. udah bisa dongengin Bapakmu, sudah bisa pijitin Ibukmu, sudah bisa nolak kalau dimintain tolong ngambil barang nggak kayak dulu yang selalu suka dimintain tolong. dan, sudah bisa milih baju sendiri. besok-besok bantuin serika ya sayaaang :*
Kanzie pas 18m, gayanya kayak bisa baca :D
16.1.13
G*blok!!
Setelah
dulu ketika awal maraknya pemerkosaan di angkot, seorang pelawak yang sama
sekali nggak lucu bernama Olga melontarkan lelucon tentang pemerkosaan, beberapa
bulan yang lalu seorang Bupati Aceh Barat Ramli Mansur,
melontarkan kalimat “wanita pak mini layak diperkosa”. Waktu itu,
Fauzi Bowo juga menilai kejahatan berupa pemerkosaan di angkot, antara lain,
disebabkan penumpang wanita kerap mengenakan pakaian yang minim, seperti rok
mini (misi pak kumis, tau ibu-ibu yang jualan sayur itu nggak? Yang diperkosa
brutal di angkot? Ibu-ibu itu pake mini ya? Trus yang anak sekolah berseragam itu?
Pake mini juga Pak?). Dan puncaknya kemarin, saya tau dari sahabat bahwa
seorang calon hakim agung, M Daming Sanusi menjawab "yang
diperkosa dengan yang memperkosa ini sama-sama menikmati”
ketika ditanyai apakah para pemerkosa itu seharusnya diberi hukuman mati.
Pengen
meludah saya. Padahal saya waktu itu dengan esmosi tingkat tinggi menulis ini,
karena saya tau betapa hukum yang lemah itu yang menjadikan para pemerkosa itu
merajalela. Ternyata saya salah, bukan hanya hukum yang lemah tapi juga pandangan
masyarakat terhadap pemerkosaan itu yang menjadikan mereka merajalela. Di masyarakat,
korban pemerkosaan masih dianggap sebelah mata. Masih ada kalimat “salahnya
pake baju terbuka, keluar sendirian blabla”. What te hell?? Kalo gitu, kalo ada
lelaki jalan sendirian malam hari, dibunuh aja nggak papa? Atau dirampok kemudian
dipukuli juga nggak papa? Kan salahnya sendiri jalan malam-malam sendirian? Ada
nggak sih pernyataan yang lebih GOBLOK dari itu??
Mau
orang itu pake baju semini dan seterbuka apapun nggak akan bisa dijadikan
pembenaran untuk perbuatan pelecehan seksual apalagi pemerkosaan. Kalo ada
wanita memakai baju terbuka, mini, seksi, adalah hak setiap orang untuk
melihatnya. Untuk memfantasikannya juga hak mereka dan itu resiko wanita itu. Karena
fantasi itu kan urusan para lelaki itu dengan dirinya sendiri. Nggak mengambil
merampas dan mengganggu hak orang lain. Tapi kalau sudah melecehkan, memegang,
bahkan memperkosa, itu yang nggak bisa dibenarkan dengan alasan apapun. Itu sudah
melanggar hak orang lain, dan JELAS merupakan perbuatan kejahatan. Ngerinya,
ternyata bukan masyarakat aja tapi orang-orang berpengaruh di negeri ini juga masih
punya pikiran seperti itu. Dan saya kok yakin ya, bahwa kalimat Daming itu adalah
lelucon internal antar hakim-hakim, dan dia tanpa sadar melontarkannya di depan
DPR. Bayangkan aja, para orang berpengaruh di negeri ini masih memandang remeh
masalah pemerkosaan. Ya jelas aja pemerkosaan merajalela.
Saya
pernah mengalami pelecehan seksual di masa kecil saya. Dan asal tau aja, itu
membekas sampai sekarang. Detilnya, jijiknya, dan dendamnya masih terasa sampai
sekarang, puluhan tahun kemudian. Padahal waktu itu saya masih TK dan SD. Dan itu
“hanya” diraba saja yang berlangsung “hanya” beberapa menit. Bayangkan, apa
yang terjadi pada korban pemerkosaan? Apa setiap saat nggak merasa jijik sama
dirinya sendiri? Apa nggak merasa ingin bunuh diri?
Lalu
ketika SD saya dilecehkan, itu salah saya? Karena saya pake rok mini? Karena saya
main nggak sama orang tua? Hah!!! Saya berani jamin, para pemerkosa itu meski
disuguhi wanita berpakain sopan atau anak kecil bercelana pendek pun pasti otaknya
tetap mesum dan juga akan melakukan hal yang sama jika ada kesempatan.
Saya
nggak berandai-andai bagaimana kalau para
orang goblok dia atas itu istri dan anak mereka diperkosa sehingga mereka
setidaknya bisa berempati pada korban pemerkosaan. Saya cuma berandai-andai
aja, seandainya mereka dis*d*mi gimana? Masih berpikir yang
diperkosa dengan yang memperkosa ini sama-sama menikmati?
Klik di sini, tanda tangani petisi ini.
15.1.13
Bebek dalam tempurung
Belakangan
ini kok rasanya saya lagi krisis identitas ya. Dua tahun ini, tepatnya sejak
ada Kanzie, saya ngerasanya jadi orang yang membosankan. Serius. Isi kepala
saya cuma kanzie..kanzie. Pikiran saya tertuju cuma buat dia. Dan ini bukan menandakan
saya Ibu yang baik. Malah rasanya kok saya semakin lama makin nggak sabaran
sama si bocah. Semakin isi kepala saya cuma kanzie, semakin gedabrukanlah saya.
Saya jadi ibu yang nggak nyante, ibuk yang terlalu banyak mikir yang akhirnya
nggak fun sama sekali. Padahal s bocah cuma pengen ibuk yang nemenin dia main main
main.
Dua
tahun ini, saya merasa lebih bersemangat dan lebih nyambung bertemu dengan
orang-orang yang sudah beranak dan berstatus ibu baru kayak saya. Ngobrolnya nyambung
dan topiknya adalah satu-satunya topik yang saya suka dan kuasai sekarang. Saya
malah merasa nggak nyaman ketika berada di luar komunitas ibu-ibu. Karena selain
ngerasa nggak nyambung, juga ada satu moment yang saya mikir “haduh ini
ngomongin apa sih, penting ya bahas begituan?’. Padahal ya, yang menurut saya penting
juga belum tentu dianggap penting sama orang lain kan. Menyedihkan nggak sih?
Ketertarikan
saya beneran terbatas cuma tentang si bocah. Contohnya televisi. Saya nggak
pernah liat berita, bahkan meski berita artis alias infotainment. Liat televisi
yang diniati ya liat acara Buah Hati. Begitupun blogwalking, larinya ke
blo-blog ibu-ibu. Punya twitter pun begitu, cuma follow situs parenting dan
itupun sebulan sekali ditengok. Pilihan buku dan film pun tanpa saya sadari
bergeser. Lebih suka cerita tentang keluarga. Lihat? Betapa membosankannya saya
sekarang? Kumpul sama sahabat pun bahasannya nggak jauh dari netek, mogok maem,
dokter anak. Di kantor, temen dekat saya pun juga ibu muda. Jadi ya sama aja. Bahasannya
itu-itu aja. Bahkan sama suami pun sebagian besar obrolan kami ya tentang sukro
ini. Rencana untuk sukro, kenapa sukro begini kenp begitu dll. Negeliat folder
foto saya isinya full foto kanzie semua. Foto saya & suami paling sebiji
dua biji. History browsing saya kalo nggak komunitas ibu-ibu, situs parenting
atau ya blog ibu muda.
Dan
yang paling parah, saya justru menikmatinya. Saya sangat menikmati obrolan
tentang anak, parenting. Saya menikmati ngeliat acara tentang anak. Saya menikmati
baca buku dan liat film tentang keluarga. Saya menikmati cuma follow situs
parenting di twitter dan nggak ngerti gosip heits masa kini. Saya menikmati
baca cerita ibu lain tentang anak mereka, tentang keluarga. Ya. Parahnya, saya menikmatinya.
Tapiiiii..saya
juga kangen sama diri saya yang dulu. Yang mau tahu dan tertarik sama hal-hal
lain selain kanzie. Yang otaknya mikir macam-macam selain mikir kanzie. Yang pengetahuan
dan obrolannya lebih beragam.
Akhir-akhir
ini sudah mencoba untuk kembali jadi Fanie, bukan ibuknya kanzie aja. Kalau
selama 1,5 tahun terakhir ini tiap kali istirahat kantor langsung cus pulang ke
rumah, sekarang ngasih kesempatan diri saya sendiri seminggu 2x untuk keluar
makan siang sama temen kantor. Dan ternyata, nggak kepikiran kanzie sama sekali.
Haha…Hubungan sama suami juga gitu. Kalau dulu, saya dan suami pacarannya
curi-curi waktu. Pas pulang kerja mampir ngopi bentar. Itupun pacarannya
ngobrol seputaran kanzie. Sekarang sebulan sekali nyoba pacaran pas sabtu/minggu.
Entah nonton, ngopi atau cuma jajan bakso. Khusus minta mbah Nem lembur biar
kami berdua bisa pacaran. Nggak ngerasa salah sama kanzie sih, karena menyenangkan
sekali bisa balik kayak dulu. Haha.. Dan sebisa mungkin obrolannya jauh dari
ngobrolin kanzie. Meski nggak terlalu berhasil juga sih. Tapi intinya kita bisa
makan tenang berdua, tanpa gantian yang satu jaga kanzie. Bisa naik motor
berdua pake dempet-dempetan tanpa si bocah nyempil di tengah, bisa ketawa
ngakak dan konsen nyela orang tanpa takut kanzie denger, bisa jalan berdua
tanpa satunya bawa bayi satunya bawa perlengkapan konser si bayi. Meski cuma
2-3 jam tapi menyenangkan. Sekarang nyoba untuk beli buku/flm yang nggak ada
unsur cerita anak/keluarga. Nyempetin browsing/buka blog yang di luar situs parenting.
Biar fresh otaknya. Biar nggak ngerasa
nggak nyaman ketika berada di komunitas yang bukan buibu. Dan nggak kayak bebek
dalam tempurung. *langsung cari dvd yang seru- nyampe rumah-kanzie nonton Barney-suami
nonton bola- Wassalam*
gambar diambil dari sini
Langganan:
Postingan (Atom)